Hubungan Pengetahuan Berwawasan Kependudukan dengan Sikap dan Prilaku Siswa SMA Oleh : Pranowo Adi

Category : Artikel

Pontianak (28/11/14) Menarik apa yang menjadi hasil uji validitas kuesioner penelitian tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap prilaku hidup berwawasan kependudukan pada siswa-siswi SMA Negeri di Kalbar, yang dilakukan di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kubu Raya baru-baru ini. Dari 22 siswa kelas X, XI dan XII yang menjadi responden menyatakan mayoritas mengetahui tentang pola perilaku hidup berwawasan kependudukan. Contohnya mayoritas siswa memilih jawaban usia yang paling ideal untuk menikah adalah minimal 20 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria. Demikian halnya dengan jumlah ideal anak yang dilahirkan oleh suami-istri adalah 2 anak. Dari dua item pertanyaan mendasar tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa-siswa SMA di daerah ini sudah mengetahui tentang usia ideal atau sehat untuk melangsungkan pernikahan dan memandang jumlah anak ideal dalam satu rumah tangga adalah 2 anak saja. Artinya hal ini sudah sejalan dengan yang diamanatkan oleh BKKBN. Motto 2 anak cukup dan usia ideal menikah 20 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria, ternyata sudah dipahami siswa-siswi SMA. Walaupun hasil uji validitas ini belum bisa mewakili atau belum bisa digeneralisasikan, namun secara kasat mata dapat dipahami bahwa sebenarnya siswa-siswi SMA yang merupakan usia remaja ini sudah memahami pentingnya merencanakan sebuah rumah tangga, yang menjadi salah satu unsur penting dalam kependudukan.

Pertanyaannya sekarang adalah mengapa jika dikaitkan dengan Age Spesific Fertility rate (ASFR) provinsi Kalimantan Barat menurut SDKI tahun 2012 mencapai 104 yang berarti dari 1.000 kelahiran bayi, 104 diantaranya adalah dilahirkan oleh wanita usia 15-19 tahun, yang sekaligus menempatkan provinsi ini urutan pertama nasional. Walaupun tidak selalu ada hubungannya antara tingginya ASFR dengan pengetahuan, sikap dan prilaku remaja khususnya siswa SMA, namun dari beberapa kasus yang terjadi di masyarakat adalah adanya siswa SMA yang harus berhenti sekolah karena menikah atau terpaksa menikah karena alasan tertentu. Pada beberapa kasus menunjukkan masih ada siswa SMA yang belum mengetahui tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Kalaupun mengetahui informasi sedikit tentang reproduksi, hal itu hanya diperoleh dari mata pelajaran biologi. Sedangkan informasi mengenai kesehatan reproduksi maupun resiko jika terjadi hubungan suami istri belum sepenuhnya diketahui siswa SMA yang umumnya adalah remaja. Fatalnya ada yang beranggapan bahwa satu kali berhubungan suami istri belum tentu menyebabkan kehamilan. Jika kondisi seperti ini terus terjadi dan tidak ada intervensi dari berbagai pihak untuk mencegah dan mengendalikannya maka kasus-kasus remaja umur 15 – 19 tahun yang sudah melahirkan tetap saja akan terjadi.

Banyak faktor yang menjadi penyebab dan melatarbelakangi terjadinya kasus pernikahan diusia dini dan kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja. Dua faktor yang berpengaruh adalah faktor intern yakni pribadi remaja yang umumnya siswa SMA itu sendiri dan faktor eksternal yang lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Pengaruh dari dalam diri remaja sendiri antara lain disebabkan oleh minimnya pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), lemahnya ahklak dan keimanan mereka. Jika dari sisi pengetahuan tentang KRR dan pola hidup berwawasan kependudukan dinilai tahu dan paham, selanjutnya tinggal tergantung pada keimanannya. Lain halnya jika dari sisi pengetahuan tentang KRR maupun pola hidup berwawasan kependudukan seorang remaja tidak mengetahui apalagi paham, ditambah lagi keimanannya kadarnya masih rendah, maka besar kemungkinan akan berdampak pada tingginya ASFR maupun dampak kependudukan lainnya. Solusinya adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pola hidup berwawasan kependudukan dan KRR, serta membentengi remaja agar tidak mudah terpengaruh pada prilaku menyimpang. Jika remaja telah memiliki pengetahuan dan pemahaman remaja tentang pola prilaku hidup berwawasan kependudukan, maka akan mendorong munculnya sikap dan prilaku hidup yang berwawasan kependudukan. Sementara dari faktor eksternal lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Gempuran arus informasi dan teknologi yang semakin gencar dinilai memberikan kontribusi terhadap munculnya sikap dan prilaku remaja untuk berperilaku kontra produktif, yang salah satu dampaknya adalah terjadinya praktek seks bebas dan terjadinya pernikahan di usia dini.

Program yang perlu kembali dioptimalkan adalah meningkatkan aklak dan iman para remaja, sekaligus meningkatkan pengetahuan tentang KRR memalui berbagai strategi seperti menambah jam pelajaran agama, menerapkan kurikulum mata pelajaran KRR serta mengisi kegiatan ekstra kurikuler para siswa dengan kegiatan-kegiatan positif yang intinya adalah menanamkan pemahaman tentang tanggung jawab pribadi, dan mempertebal iman dan taqwa agar terhindar dari pengaruh negatif. Di sisi lain yang perlu digalakkan adalah menerapkan komunikasi baik sesama siswa, dengan orang tua maupun dengan guru. Komunikasi ini penting mengingat dari beberapa kasus yang muncul belakangan ini adalah akibat minimnya komunikasi siswa dengan orang tuanya, dengan guru, maupun dengan teman-teman sejawat. Upaya lain yang perlu di kembangkan adalah membentuk lingkungan yang sehat, komunikatif, dan agamis, sehingga akan membantu pembentukan karakter para siswa yang umumnya mereka adalah remaja. Harapannya adalah dengan telah dibentenginya para remaja dengan iman dan taqwa serta aklak yang baik, sikap dan prilaku mereka akan selaras dengan pengetahuan berwawasan kependudukan. (by Adi) *) Penulis adalah Widyaiswara pada Perwakialan BKKBN Kalbar.

Related Posts