ASFR KALBAR TERTINGGI: “ADA APA DENGAN REMAJA KITA” Oleh: Pranowo Adi

Category : Kegiatan

asfr

Pontianak (28/11/14) Berbagai reaksi dan tanggapan masyarakat muncul mencermati hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, yang menunjukkan Angka Kelahiran Menurut Kelompok Umur (Age Spesific Fertility Rate/ASFR) 15 – 19 di provinsi Kalimantan Barat mencapai 104. Artinya dari 1000 kelahiran, 104 diantaranya adalah dilahirkan oleh ibu yang berumur 15 – 19 tahun. Sementara pada tahun yang sama ASFR rata-rata nasional hanya mencapai 48. Angka 104 ini sekaligus menempatkan provinsi Kalimantan Barat tertinggi secara nasional. Dalam sebuah kegiatan di Pontianak baru-baru ini, Direktur Bina Kesertaan KB Jalur Swasta BKKBN Sri Rahayu menilai, angka tersebut harus disikapi dengan serius. Pasalnya kalau remaja usia 15 – 19 tahun sudah menikah dan punya anak, lalu bagaimana masa depannya. Bisa jadi beberapa diantaranya ada yang baik-baik saja atau tidak mengalami permasalahan dan keadaan yang dapat menggangu kehidupan dan masa depannya. Namun bagaimana dengan yang lain? Pertanyaan besar ini seharusnya juga menjadi perhatian kita. Alasannya antara lain adalah pada usia 15-19 tahun merupakan masa sekolah tingkat menengah atas dan menuju jenjang Perguruan Tinggi, kemudian pada usia tersebut menurut beberapa penelitian ahli kesehatan organ reproduksinya belum sepenuhnya sempurna, dan pada usia yang tergolong remaja tersebut mental mereka belum matang sehingga dipandang psikologisnya belum siap untuk berumah tangga dan punya anak. Belum lagi dari sisi ekonomi yang umumnya pada usia 15-19 tahun masih menjadi tanggungan orang tuanya, dan masih banyak lagi alasan yang muaranya adalah menyebabkan rendahnya Indeks Pembangunan manusia (IPM) yang indikator utamanya adalah pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Apalagi kalau kita telusuri penyebab mengapa remaja usia 15-19 tahun sudah punya anak. Bisa jadi mereka memang sudah siap untuk menikah dan sudah memiliki penghasilan. Karena dari hasil penelitian Pusat Penelitian Kependudukan dan KB BKKBN (PUSDU) di beberapa kabupaten di Kalimantan Barat memiliki tradisi dan nilai-nilai sosial budaya tertentu, sehingga jika wanita usianya sudah lebih dari 17 tahun dan ada yang meminangnya maka akan dinikahkan. Ada lagi pendapat yang menyatakan orang tua ingin segera ‘melepaskan’ tanggung jawab pengasuhan anak karena faktor ekonomi. Menurut mereka usia anaknya sudah lebih dari 15 tahun dan ada yang mau menikahinya dari pada menjadi ‘perawan tua’. Dan hal ini juga dinilai syah menurut Undang-undang Perkawinan nomor 1 tahun 1974. Namun pertanyaan besar kembali muncul jika penyebab perkawinan diusia remaja tersebut adalah sebagai akibat dari pergaulan bebas yang dampaknya adalah hubungan seks pra nikah atau masyarakat Indonesia menyebutnya Married By Accident /MBA. Masih menurut hasil penelitian pihak PUSDU di daerah ini menunjukkan, ada beberapa orang tua yang menikahkan anak remaja karena sudah hamil, menanggapinya dengan dingin “mau diapakan lagi sudah terlanjur”. Artinya sikap orang tua yang ‘permisif’ terhadap keadaan anaknya dan untuk alasan menutupi aib keluarga, seolah melegalisasi hubungan pernikahan anaknya.

Ada beberapa penyebab yang melatarbelakangi terjadinya kasus seks pra nikah yang muaranya adalah terjadinya pernikahan dini dan tingginya ASFR di daerah ini. Beberapa diantaranya adalah faktor lingkungan seperti pengaruh pergaulan, dampak negatif dari teknologi informasi (HP/Internet dsb) dan ada kebiasaan remaja pria dan wanita yang pada hari-hari tertentu berkumpul pada malam hari hingga menjelang dini hari. Selain itu minimnya informasi mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) juga menjadi penyebab terjadinya pernikahan di usia remaja. Menurut beberapa pengakuan remaja yang menjadi obyek penelitian, mereka belum pernah mengetahui tentang KRR. Kalaupun tahu informasi tentang seks justru dari pelajaran biologi di sekolah, bahkan ada yang memperoleh informasi yang menurut banyak kalangan keliru adalah dari film porno serta informasi dari teman-temannya. Tragisnya ada yang beranggapan satu kali berhubungan seks, belum tentu menyebabkan kehamilan. Begitu kompleksnya persoalan remaja tersebut kalau di telisik lebih mendalam adalah karena minimnya komunikasi antara orang tua dan anak, masih lemahnya tingkat keimanan remaja dan sumber informasi KRR yang masih kurang. Banyak kasus ditemukan, ada beberapa kalangan orang tua yang permisif atau menganggap biasa jika anak remaja putrinya pulang larut malam. Ada lagi remaja jarang sekali berkomunikasi dengan orang tuanya, jangankan untuk mengobrol bercengkerama di rumah atau di rumah makan dan sebagainya, untuk saling menyapa dan bersalaman jika pergi meninggalkan rumah atau setiap selesai sholat bagi yang beragama Islampun sudah tidak pernah lagi dilakukan. Sementara gempuran arus informasi dari luar terus menyelimuti kehidupan remaja sehari-hari.

Berbagai kehawatiran muncul akibat terjadinya pernikahan usia dini ini, mulai dari dampaknya terhadap kesehatan ibu dan anak yang dilahirkan, tingginya kematian ibu yang melahirkan hingga tingginya kasus perceraian di kalangan keluarga usia muda sebagai akibat dari belum siapnya mental dan spiritual mereka. Namun akankah kita tinggal diam melihat fakta-fakta tersebut? Sebenarnya sudah banyak solusi yang ditawarkan oleh Pemerintah, seperti pentingnya pendidikan hingga tingkat yang lebih tinggi, peningkatan layanan kesehatan hingga ke pelosok, pola pendampingan petugas seperti guru, bidan, TNI/Polri, tokoh agama, hingga pada upaya sosialisasi penyiapan Generasi Berencana dan Ketahanan Keluarga melalui program Bina Keluarga Remaja, dan masih banyak lagi upaya-upaya strategis lainnya. Kuncinya sekarang adalah bagaimana dalam setiap keluarga di daerah ini mengembangkan komunikasi yang baik dengan anak, membentengi anak dengan akhak yang baik, dan meningkatkan ketahanan keluarga dengan harapan tidak terpengaruh oleh kuatnya arus informasi dan lingkungan pergaulan yang negatif. ( by Adi)
(* Penulis adalah Widyaiswara pada BKKBN Provinsi Kalimantan Barat)

Related Posts